Sepak Bola Indonesia (Sekarang) Adalah Sepak Bola Tiki-Taka

maxresdefault

Anda mungkin bertanya-tanya, apa maksud si penulis membuat tulisan ini? Apa dia ingin mencari sensasi? Apa dia sedang mabuk, sehingga salah memberi judul? Dan berbagai pertanyaan dan pendapat lainnya yang sifatnya janggal atau absurd.

Tidak, tidak ada yang salah dengan judul tulisan ini. Dan saya ingin memastikan bahwa saya berada dalam keadaan 100% sadar dan tidak habis minum-minum saat menulis tulisan ini.

Tulisan ini berbicara tentang dua hal: Indonesia dan Tiki-Taka. Serta bagaimana keduanya yang ternyata mempunyai hubungan yang erat.

***

Indonesia. Negara dengan penduduk sebanyak 255 juta jiwa, 34 provinsi, belasan ribu pulau, dan beragam suku serta budayanya. Negara yang lebih suka ‘memenjarakan’ pencuri ayam ketimbang pencuri uang rakyat. Negara yang pengajarnya lebih mempermasalahkan warna sepatu dan panjang rambut siswanya ketimbang keinginan sang siswa untuk belajar. Negara yang kalau ada bom, masyarakatnya akan datang menonton.

Lalu, bagaimana dengan sepak bolanya?

Untungnya sepak bola Indonesia – awalnya – tak sekusut negaranya. Pernah merasakan sensasi turnamen Piala Dunia. Pernah empat kali berada di babak grup Piala Asia. Pernah empat kali kalah di final Piala AFF. Dan yang mungkin paling baik, pernah meraih medali emas SEA Games sebanyak dua kali – tahun 1987 dan 1991.

Indonesia pun tak pernah berhenti melahirkan pemain-pemain berbakat, sebut saja Soetjipto Soentoro, Widodo Cahyono Putro, Bambang Pamungkas, Boaz Solossa, Andik Vermansyah hingga Evan Dimas Darmono.

Dan menurut hemat saya, Firman Utina masih lebih hebat dalam urusan mengirim umpan ketimbang Jordan Henderson.

Memang sangat indah jika mengenang masa lalu, apalagi yang dikenang adalah kenangan indah yang sekarang tidak bisa diulang kembali.

Namun kita harus kembali ke realita sekarang. PSSI dibekukan oleh FIFA, yang mana membuat Indonesia tidak bisa ikut berpartisipasi dalam turnamen internasional. Liga tidak diizinkan bergulir, stakeholder sepak bola Indonesia kehilangan pekerjaannya, dan yang paling parah, Indonesia kehilangan hiburan yang paling menghibur di tanah ini.

Malahan, sekarang klub-klub profesional seperti kecanduan ikut turnamen kelas tarkam– yang menurut saya sangat mewah jika dibilang tarkam. Tentu saja ini sangat logis, karena dapat uang dari mana mereka untuk membayar gaji pemain-pemainnya?

Mungkin anda masih tidak habis pikir apa hubungannya rangkaian paragraf di atas dengan judul tulisan ini. Tahan sebentar, karena jawabannya bisa anda ketahui setelah membaca topik kedua di tulisan ini. Ya, Tiki-Taka.

***

Tiki-Taka (dalam bahasa Spanyol tiqui-taca), salah satu gaya bermain di sepak bola yang cirinya adalah umpan-umpan pendek, pemain yang selalu bergerak, perpindahan bola dari satu sisi ke sisi lainnya, dan yang paling absolut, mempertahankan penguasaan bola. Singkatnya, Tiki-Taka adalah gaya bermain sepak bola – yang menurut banyak pihak – adalah yang terindah untuk disaksikan.

Gaya ini diawali dari dua orang jenius di sepak bola, Johan Cruijff dan Rinus Michels. Michels dengan arahannya di pinggir lapangan dan Cruijff menari-nari di tengah lapangan , mereka berdua memperlihatkan kepada dunia bahwa seperti inilah seharusnya sepak bola dimainkan. Namun saat itu mereka menyebut gaya itu total-football bukan Tiki-Taka.

Lalu, Pep Guardiola yang baru saja membawa FC Barcelona B menjuarai Liga Adelente – satu kasta di bawah La Liga – ditunjuk untuk mengarsiteki tim senior menggantikan Frank Rijkaard. Guardiola yang memang sudah jatuh cinta dengan sepak bola indah, mengadopsi gaya bermain total-football dan menyempurnakannya, sehingga terlahirlah Tiki-Taka.

Seperti halnya pemain baru, murid baru, karyawan baru. Pelatih baru pun juga mendapatkan masa-masa sulit, masa-masa adaptasi. Guardiola yang kekeh menggunakan gaya Tiki-Taka berhasil melewati masa-masa itu, dan sisanya? Sejarah.

Namun ada yang menarik dari kisah yang menurut saya bak dongeng di atas. Ternyata Guardiola menolak untuk dihubungkan dengan Tiki-Taka dan mengaku membencinya.

“Saya membenci tentang semua yang berhubungan dengan tiki-taka,” ujar Guardiola.

Karena menurutnya, Tiki-Taka adalah melakukan banyak umpan tanpa tujuan dan dasar yang jelas.

Ya! Umpan tanpa tujuan dan dasar yang jelas! Sama persis dengan apa yang sepak bola Indonesia lakukan sekarang ini. Pengakuan para pendukung Barcelona bahwa timnya memainkan Tiki-Taka ternyata salah besar! Bahwa sebenarnya Indonesia-lah yang – sedang – memainkan Tiki-Taka.

Sepak bola Indonesia, dalam hal ini adalah klub-klub profesionalnya, benar-benar menjalankan gaya Tiki-Taka. Saya mungkin maklum jika klubnya adalah klub amatir. Tetapi, di sini hampir keseluruhannya –yang ber-tiqui-taca— adalah klub profesional. Klub-klubnya bertindak (mengumpan) tanpa tujuan dan dasar yang jelas, bahwa klub-klub tersebut tak menunujukkan fungsinya sebagai ‘klub profesional’.

Saya tidak bisa membayangkan Manchester United mengikuti turnamen yang dibuat oleh salah satu perusahaan olahraga di Inggris sana.

***

Jumat kemarin saat kebetulan saya sedang khidmat mendengar khutbah jumat, sang khotib berujar, bahwasanya tidak salah pemikiran radikal itu selama dibarengi dengan dasar yang jelas.

Tidak ada yang salah dengan pemikiran radikal, yang salah adalah pemikiran radikal tanpa dasar. Tidak ada yang salah dengan bermain Tiki-Taka, yang salah adalah bermain Tiki-Taka tanpa dasar (dan tujuan) yang jelas.”

 

 

25 Januari 2016

Gambar: https://i.ytimg.com/vi/hgUnQi9XFIc/maxresdefault.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s