Jiwa Kesatria

quote

Kesatria. Ada banyak sekali versi dan pendapat mengenai satu kata ini. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) kesatria adalah ‘orang (prajurit, perwira) yang gagah berani; pemberani’. Sedangkan menurut Bruce Wayne, kesatria adalah orang yang melakukan hal sederhana, seperti menempatkan mantel di bahu seorang anak untuk memberi tahu bahwa dunia belum berakhir.

Dan satu pendapat terkahir, kesatria adalah orang yang merelakan ambisi pribadi untuk bermain di pentas Piala Dunia demi kepentingan negara. Ya, mereka semua adalah kesatria. Mudahnya, kesatria adalah pemberani.

Mungkin saat ini sudah jarang orang yang memiliki jiwa kesatria, bagaimana mau punya jiwa kesatria? wong sekali dicadangkan saja, langsung mogok latihan. Bagaimana mau punya jiwa kesatria? kalau kalah masih cari-cari kesalahan.

Tetapi dunia ini memang unik dan begitu indahnya. Ternyata masih ada orang yang memiliki jiwa kesatria yang bila dilihat di jaman seperti ini sangat sulit untuk ditemukan. Ternyata masih ada orang yang mengesampingkan kepentingan pribadinya demi kepentingan bersama.

Ternyata ada orang yang bisa menolak untuk bermain di pentas Piala Dunia demi kebaikan negaranya.

Ya, kesatria itu adalah juru gedor asal Kolombia, Radamel Falcao dan gelandang Italia milik Hellas Verona, Romulo.

Kejadiannya adalah sebelum Piala Dunia 2014, tepatnya pada bulan Januari 2014. Falcao yang kala itu masih bermain di AS Monaco mendapatkan cedera lutut yang membuatnya harus absen hingga 6 bulan. Seisi Kolombia cemas, James Rodriguez dan kawan-kawannya di timnas khawatir kapten tim mereka tidak bisa pulih di waktu yang tepat.

Seiring berjalannya waktu dan yang seperti kita tahu, Falcao akhirnya harus memupuskan harapannya untuk bermain di kompetisi paling akbar seantero bumi. Namun, dibalik gagalnya Falcao tampil di Piala Dunia ternyata ada cerita unik yang akhirnya membuat saya tak bisa menahan diri untuk menceritakannya.

Jadi ceritanya saat deadline penyerahan nama-nama pemain yang akan berlaga di Brazil nanti, kondisi sang kapten masih diragukan untuk tampil.

Jose Pekereman pun keukeuh untuk tetap memasukan nama Falcao di daftar. Apapun perannya nanti di Brazil, mau dia bisa main atau tidak, Pekereman menganggap Falcao akan menambah moral skuat Kolombia – mengingat Falcao adalah kapten tim.

Namun yang terjadi?

“Saya tidak ingin mengambil tempat rekan setim yang tengah berada di dalam kondisi 100 persen, kondisi yang jauh lebih baik daripada saya.” ujar Falcao saat konfrensi pers.

Ya, Falcao menolak untuk dimasukkan namanya di daftar pemain. Dia menyerahkan tempatnya kepada pemain lain yang lebih fit, lebih siap dan dirasa akan jauh lebih berguna bagi tim.

Falcao melihat bahwa ada kepentingan lain yang jauh lebih penting bagi negaranya ketimbang kepentingan dan mimpinya akan Piala Dunia. Dan, ya, dia merelakan dan melepas kesempatannya untuk bermain – atau setidaknya berpartisipasi – di kompetisi paling akbar di dunia ini.

Kejadian serupa terjadi juga di Italia.

Ketika arsitek timnas Italia, Cesare Prandelli, mengumumkan 23 pemain yang akan berlaga di Brazil, tidak ada nama Romulo. Nama Romulo ada di daftar pemain yang tak lolos seleksi akhir training camp timnas Italia.

Namun, serupa dan sama seperti Falcao, ada kisah tersendiri dibalik tak lolosnya Romulo ke skuat final Gli Azzuri.

Ternyata sang pelatih memasukkan nama Romulo ke daftar skuat final yang akan dibawa ke Brazil, lalu kenapa akhirnya nama sang pemain ternyata masuk ke daftar pemain yang tak lolos seleksi?

“Prandelli sebenarnya memasukkan saya dalam daftar 23 pemain untuk skuat final,” ujar Romulo.

“Namun, saya mengatakan kepadanya kalau kondisi saya hanya 70 persen. Tak pantas rasanya saya terpilih, padahal ada rekan lain yang kondisinya jauh lebih prima,” tambah dia.

Sebenarnya Romulo bisa saja untuk tetap bungkam dan tetap ikut ke Brazil dengan kondisi yang hanya 70% itu.

Tetapi, sama halnya dengan Falcao, karena Romulo tahu bahwa ada hal yang jauh lebih penting ketimbang mimpi pribadinya untuk berlaga di Piala Dunia.

***

Empat hari yang lalu, saya kebetulan mengalami kejadian yang hampir sama seperti Falcao dan Romulo. Saya ikut lomba futsal tetapi saya jatuh sakit satu minggu sebelum lomba tersebut digulir.

Saat harinya, kondisi saya hanya 75% dan akhirnya saya harus merelakan mimpi saya untuk berlaga dengan teman-teman saya yang hebat itu, merelakan mimpi saya untuk kembali satu tim dengan mereka.

Kalau boleh jujur, sebeneranya saya bisa saja tetap bungkam dengan sakit saya dan dengan tenang bermain di lomba tersebut, tetapi karena (kebetulan) saya sudah tahu kisah Falcao dan Romulo, saya sedikit mengerti bahwa ada hal-hal penting seperti kepentingan bersama dan terkadang mimpi-mimpi pribadi kita harus dikorbankan.

Jadi pertanyaannya, apa saya sudah termasuk kesatria? hehe.

23 Februari 2016

Gambar: http://www.formidablecourage.com/wp-content/uploads/2014/02/quote.jpg

 

Advertisements

One thought on “Jiwa Kesatria

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s