Jadi Cristiano Ronaldo? Kenapa Nggak?

24a6058a00000578-2913166-image-m-30_1421408738843

31 tahun yang lalu di salah satu kota kecil di Portugal, Madeira, José Dinis Aveiro dan Maria Dolores dos Santos Aveiro melahirkan anak keempatnya. Mengingat José dan Maria berasal dari keluarga yang ‘biasa-biasa’ saja, mereka tidak pernah membayangkan – dan berharap – bahwa kelak sang anak akan menjadi orang besar di planet ini.

Maria tidak pernah menyangka kelak sang anak akan mengundangnya untuk merasakan megahnya stadion Santiago Bernabeu. Maria juga tidak pernah mengira bahwa anak ini akan memberikan kesempatan kepadanya untuk berada di panggung penghargaan Ballon d’Or. Maria juga tidak pernah menyangka bahwa sang anak ternyata lebih memilih dirinya ketimbang pacarnya yang super cantik.

Ya, anak ini tidak lain tidak bukan adalah Cristiano Ronaldo.

Sebelumnya saya ingin menegaskan bahwa Cristiano (penulis lebih suka menulis Cristiano) yang saya bahas di sini bukanlah Cristiano yang mengkambing-hitamkan teman se-timnya ketika kalah di laga derby. Dan bukan pula Cristiano yang mempunyai anak dari ibu yang sampai sekarang ‘pun hanya tuhan dan Cristiano yang tahu.

***

Arogan, pekerja keras, dan penyayang.

Tiga kata itulah yang menginterpretasikan Cristiano di artikel ini. Cristiano yang arogan, Cristiano yang pekerja keras, dan Cristiano yang penyayang.

Cristiano yang arogan. Sudahlah, anda yang mengaku fans Cristiano tidak bisa menggugat fakta ini. Cristiano adalah manusia yang arogan. Bahkan mahasiswa jurusan filsafat bisa dengan mudahnya percaya bahwa Cristiano adalah pribadi yang arogan.

Betapa arogan-nya Cristiano? Ketika timnya kalah di laga derby ia malah bersabda dengan entengnya, “Jika semua pemain bisa berada satu level dengan saya, maka kami tidak akan kalah”.

(Saya menarik kata-kata saya di paragraf empat untuk tidak membahas Cristiano yang mengkambing-hitamkan teman setimnya. Saya mohon maaf, hehe.)

Tidak peduli seberapa hebat dia, seberapa kuat dia, atau ‘pun seberapa tahan dia terhadap cidera. Anda tidak bisa juara jika memiliki teman setim yang menyalahkan timnya ketika kalah dan tidak mengapresiasi teman setimnya ketika timnya menang.

Cristiano yang pekerja keras. Ada sebuah cerita dari salah satu pemain jebolan akademi Real Madrid, Jesé Rodríguez. Jadi suatu hari Jesé yang baru saja dipromosikan ke tim senior Real Madrid, mempunyai ide untuk datang dua jam lebih awal pada saat sesi latihan pertama dia di tim senior.

Harapannya tentu saja untuk memikat pelatih saat itu, Carlo Ancelotti. Namun ketika sampai di tempat latihan – dua jam lebih awal – ia melihat Cristiano sudah lebih dulu berlatih di lapangan. Alih-alih memikat, Jesé malah terpikat oleh pemain yang di awal paragraf saya katakan arogan.

Cristiano yang kala itu sudah pernah dinobatkan jadi pemain terbaik dunia dan pernah memenangkan trofi liga Champions, tidak pernah berhenti bekerja keras dan berlatih untuk kembali menjadi – tentu saja – yang terbaik, atau kalau perlu selalu jadi yang terbaik.

Jika anda masih meragukan Cristiano adalah pribadi yang pekerja keras, anda bisa berkonsultasi dengan saya, Sir Alex Ferguson, atau Rio Ferdinand.

Yang terkahir adalah Cristiano yang penyayang. Apabila anda tidak tahu Irina Shayk, tutup sebentar artikel ini, buka tab baru di hp atau laptop anda, dan ketik di google ‘Irina Shayk’.

Sudah? Indah, bukan?

Saya tidak akan membahas betapa indahnya paras Irina di sini. Tetapi saya ingin memberi tahu bahwa Cristiano adalah kekasihnya (orang ini sangat beruntung!). Dan mungkin Cristiano adalah satu-satu nya mantan kekasih Irinia yang memutuskannya dan hanya karena hal – yang menurut saya – sepele.

Ya, Cristiano memutuskan hubungannya dengan Irina hanya karena sang kekasih tidak mau ikut berpartisipasi dalam rangka memberi surprise kepada ibu Cristiano, dengan alasan kecapaian setelah bekerja.

Cristiano putus dengan Irina (orang ini sangat sial!). Masih Irina yang tadi anda lihat di google, salah satu manusia terindah di bumi yang mampu membuat orang alim jadi khilaf. Cristiano memutuskannya, karena menurutnya Irina tidak bisa menghargai sang ibunda tercinta.

Mungkin masih banyak di luar sana (semoga bukan anda) yang lebih memilih menghabiskan waktu dengan kekasih – kalau anda punya – ketimbang berbincang-bincang di malam hari dengan ibu anda sendiri.

Ayolah! Cristiano yang memiliki kekasih se ….. (silahkan tulis sendiri kata-kata indah yang mewakili Irina Shayk) itu rela memutuskan kekasihnya yang berperilaku tidak seharusnya. Masak, anda lebih takut dimarahi pacar karena telat jemput, ketimbang dimarahi orang tua karena anda telat pulang? Lebih baik anda beribadah sesegera mungkin.

***

Jika membicarakan Cristiano, tidak afdal rasanya jika tidak membicarakan Leo Messi. Malaikat kecil asal Argentina yang menyihir Eropa (dan dunia) dengan bakat yang menurut saya hanya kepada dia Tuhan berikan.

Mungkin sulit rasanya untuk bisa menjadi pemain super berbakat seperti Leo Messi. Kita tahu, sebesar, sehebat, dan selama apapun berlatih, kita tidak akan pernah bisa untuk menyentuh level El Messiah.

Lantas, jika tidak bisa menjadi pemain berbakat seperti Leo Messi, tidak ada salahnya, kan, menjadi pemain arogan, pekerja keras, dan penyayang seperti Cristiano?

2 Maret 2016

Gambar:http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2015/01/16/24A6058A00000578-2913166-image-m-30_1421408738843.jpg

Advertisements

2 thoughts on “Jadi Cristiano Ronaldo? Kenapa Nggak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s