Heaven Has a New Playmaker!

ceueyhlw4aek1gt-2

Pada hari Kamis (24/3) siang waktu Spanyol suasana duka menghampiri seluruh umat sepak bola dunia. Di salah satu rumah di sudut kota Barcelona, seseorang meninggal dunia dengan damai setelah berduel dengan lawan seluruh umat manusia di dunia ini, kanker.

Seorang ayah, suami, kerabat, dan tentunya panutan bagi seluruh insan umat sepak bola dunia harus meninggalkan dunia ini.

Ya, dia adalah Hendrik Johannes “Johan” Cruyff.

(Sebelum lanjut membaca tulisan ini, mari kita doakan – dengan keyakinan masing-masing – semoga arwah Cruyff bisa tenang di alam sana. Aamiin.)

***

Bukan hal mudah untuk mengidolai seorang tokoh yang masa keemasannya berlangsung ketika kita belum lahir. Kita hanya bisa dimanjakan oleh rangkaian tulisan-tulisan serta buku sejarah dan mungkin – jika beruntung – bisa melihat aksi sang tokoh lewat video.

Siapa pun tokohnya itu, sebut saja Albert Einstein, Pablo Picasso, Muhammad Ali, Pele dan tak terkecuali, Johan Cruyff.

Johan Cruyff pertama kali memesona dunia lewat karirnya di Ajax pada 1964-1973. Bayangkan saja, umur Ayah dan Ibu saya saja baru menginjak 3 dan 2 tahun ketika Cruyff memulai karirnya di tahun 1964.

Dan seperti yang kita tahu, karirnya di Ajax merupakan puncak keemasan dari pria kelahiran Amsterdam, 25 April 1947 tersebut. Selain meraih 8 titel Eredivisie, Cruyff mendapatkan dua dari tiga trofi Ballon d’Or nya ketika masih berseragam Ajax Amsterdam.

Statistik gol Cruyff bukan main-main. Walaupun posisinya sebagai gelandang serang, Cruyff berhasil mencetak 190 gol dari 240 pertandingan liga bersama Ajax. Suatu statistik yang pemain sekaliber Iniesta ‘pun tidak mampu tandingi.

Dan tentunya hasil mahakarya terbesar Cruyff ketika menjadi pemain tidak lain tidak bukan adalah Piala Dunia 1974. Siapa pun yang menonton atau mengulik kembali sejarah Piala Dunia ini, pasti akan menemukan Timnas Belanda dan Johan Cruyff sebagai tokoh protagonis.

Terlepas dari keluarnya Jerman Barat sebagai juara, dan tanpa melupakan kehebatan Sang Kaisar, Franz Beckenbauer. Bagi saya Piala Dunia 1974 adalah manifestasi dari romantisme kehebatan Timnas Belanda dan keagungan dari penyihir bernomor punggung 14 tersebut.

Cruyff mengakhiri karirnnya sebagai pemain dengan meninggalkan puluhan cerita romantis. Total voetball, Cruyff Turn, 3 Ballon d’Or, Piala Dunia 1974, dan masih banyak lagi cerita-cerita romantis nan unik dari riwayatnya sebagai pemain sepak bola.

Namun, Cruyff tidak pernah berhenti dengan sepak bola. Baginya, sepak bola adalah hidupnya, dan hidupnya adalah sepak bola. Karirnya sebagai pelatih semakin melengkapi kisah romantisme Cruyff dengan sepak bola. Umat sepak bola dunia makin mengapresiasi apa yang telah Cruyff lakukan bagi sepak bola – khususnya Barcelona.

Lewat terobosannya, La Masia, secara tidak langsung, Cruyff telah menghasilkan pemain-pemain kelas wahid seperti Pep Guardiola, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan pemain yang saat ini masih ditasbihkan sebagai pemain terbaik seantero bumi, Lionel Messi.

Dan sepertinya Barcelona harus mengubah nama salah satu camp di komplek latihan mereka, sebagai apresiasi untuk pelatih yang membawa klub Catalan tersebut juara liga Champions untuk pertama kalinya.

Lewat Barcelona dan total voetball-nya Cruyff membuka mata umat sepak bola dunia bahwa sepak bola ada sebagai hiburan untuk penikmatnya. Tentunya – menurut Cruyff – dengan permainan menyerang nan atraktif yang memanjakan mata.

Di La Masia ada syarat bagi pemainnya dari para pelatih sebelum memulai pertandingan. Semua kelompok usia diwajibkan untuk mengedepankan syarat tersebut lebih dari apapun.

Yang pertama, “Kita harus menguasai bola lebih banyak dari lawan”

Yang kedua, “Kita harus mempunyai peluang mencetak gol lebih banyak dari lawan”

Yang ketiga, “Kita harus menang”

Tetapi ada tambahannya, “Syarat ketiga adalah yang terpenting. Tapi saya (pelatih) tidak ingin kalian memenuhi syarat ketiga tanpa mengerjakan syarat yang pertama dan kedua”

Menurut anda, siapa yang membuat syarat-syarat tersebut untuk diaplikasikan kepada pemain, kalau bukan Johan Cruyff?

Saat ini, sang revolusioner telah tiada. Namun warisannya akan tetap ada dan akan diteruskan ke generasi-generasi selanjutnya.

***

Suasana berbeda terjadi di Surga sana, semua suka cita menyambut seorang pemain baru.  Dan di sudut lapangan yang indah nan megah di Surga sana, seorang dengan rambut khasnya tersenyum sembari mengambil sebuah kaus bernomor 14 bertuliskan nama “CRUYFF”.

Rest and Play in peace, Meneer!

 

 

25 Maret 2016

Gambar: http://www.sokkaa.com/wp-content/uploads/CeUEyHlW4AEk1gt-2.jpg

Advertisements

One thought on “Heaven Has a New Playmaker!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s