Pledoi untuk Messi

cl9m8agwaaeoozv

Semua orang di dunia ini pernah melakukan kesalahan. Saya sering melakukannya. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta saat ini ‘pun tak luput dari kesalahan. Maka ketika seseorang dengan bakat yang luar biasa hebat dan keberadaanya bak Tuhan, melakukan kesalahan. Pertanyaannya, apakah menjadi hal yang tabu bila kita memaafkannya? Menilik dari kualitas pribadi orang tersebut, yang sangat mustahil untuk melakukan kesalahan.

***

Pada Senin (27/6) pagi waktu Indonesia bagian Barat, saya bangun untuk menyaksikan pertandingan final Copa America Centenario. Kejuaraan yang diadakan sebagai peringatan 100 tahun Copa America. Saya pribadi tidak terlalu intens mengikuti kejuaraan ini, mengingat ada turnamen yang lebih ‘wah’ (baca: Euro 2016) untuk diikuti.

Tiga minggu kejuaraan ini bergulir, tersisa dua tim di partai final. Dua tim yang kembali bersua di ajang yang sama. Argentina dan Chile.

Pagi itu saya dengan wajah terkantuk-kantuk dan harapan yang tinggi bersusah payah menonton partai final ini. Saya tidak sudi menonton pertandingan ini jika bukan karena harapan saya melihat Argentina – tepatnya Messi – mengangkat trofi Internasional, mengingat betapa menjenuhkannya pertandingan ini.

120 menit tanpa gol. Bukan hal baru karena kita sudah melihatnya di tahun 2015, di kejuaraan yang sama. Pertandingan dilanjutkan ke drama adu pinalti.

Harapan saya sedikit meninggi ketika sepakan penendang pertama Chile, Arturo Vidal, ditepis oleh Sergio Romero. Tidak lama kemudian harapan saya kembali ke tempat semula. Lionel Messi, pemain terbaik dunia, kapten Argentina, pemain idola saya, gagal mengeksekusi pinalti karena sepakannya melambung tinggi.

Dan akhirnya seperti yang kita tahu, De Javu terjadi hari ini. Argentina (kembali) kalah dengan lawan yang sama, di kejuaraan yang sama, dan lewat cara yang sama. Harapan saya ‘pun harus tertunda untuk setidaknya sampai dua tahun ke depan.

***

Selepas dari pertandingan, Anda dan saya jelas tahu siapa yang akan dikambinghitamkan atas (kembali) kalahnya Argentina di final. Ya, siapa lagi kalau bukan Lionel Messi.

Namun, apakah kalahnya Argentina sepenuhnya salah Messi? saya rasa tidak.

Jika bicara statistik di lapangan -terlepas dari gagalnya Messi mengeksekusi pinalti- sebenarnya penampilan Messi tidak buruk-buruk amat. 8 dribel sukses, 6 key pass, 2 tembakan dan 1 on-target, dan 8 kali Messi membikin pemain Chile harus melanggarnya.

Bandingkan dengan Higuain yang hanya mencetak 2 tembakan nol on-target dan membuang peluang emas 1 on 1 ketika berhadapan dengan Bravo. Atau ketika Marcos Rojo dengan bodohnya mentekel Vidal yang berbuah kartu merah.

Tapi seperti kata paman Ben, “With great power, comes great responsibility.”

Messi tahu betul bakatnya yang luar biasa hebat, bukan hanya mendatangkan anugrah, tapi (kadang-kadang) anugrah itu bisa berubah 180 derajat menjadi bencana.

Ketika Argentina kalah, seluruh masyarakat menyalahkan Messi. Tidak peduli berapa ratus kali Higuain dan Aguero menyia-nyiakan peluang, atau berapa  kali Di Maria harus sibuk dengan cideranya, dan bagaimana Banega serta Biglia seperti anak SMA yang bermain di final Internasional.

Saya sendiri tidak memperdulikan siapa yang harus disalahkan ketika Argentina kalah di final. Argentina kalah, semua salah. Dari federasi, pelatih, staff, pemain, dan seluruh elemen sepak bola di Argentina patut disalahkan.

Namun yang saya tidak habis pikir adalah pernyataan pensiun Messi -serta beberapa pemain lain seperti Aguero, Mascherano- setelah selalu gagal di final Internasional.

Anda bermain, kalah, kecewa, pulang. Tapi tidak di hari berikutnya. Anda bangkit dan mencoba terus. Itulah jalan seorang pemenang.

Mungkin hanya Messi dan Tuhan yang tahu betapa terlampau besar rasa bersalah Messi. Namun, pensiun di saat-saat tim sangat membutuhkan? You are not God anymore, Leo!

Maka ketika Messi gagal di empat final Internasionalnya, bisa jadi dikarenakan mentalnya di Argentina bukanlah mental seorang pemenang. Karena pemenang tidak pernah lari dalam kondisi sesulit apapun.

***

Saya sedikit mengutip quotes dari salah satu tokoh intelektual Islam, Emha Ainun Najib, beliau berkata, “Yang penting bukan apakah kita menang atau kalah. Tuhan tidak mewajibkan manusia untuk menang, sehingga kalah pun bukan dosa. Yang penting apakah seseorang berjuang atau tidak.”

Semoga Messi melihat artikel ini dan membaca wejangan dari cak Nun. Hingga dia merubah keputusannya untuk pensiun. Karena, siapa yang sudi menonton Piala Dunia tanpa kehadiranmu, Leo?

Oiya, satu lagi Leo, Saya memaafkanmu lho…

28 Juni 2016

Gambar: twitter.com/MessiStats

Advertisements

2 thoughts on “Pledoi untuk Messi

  1. Padahal Ever Banega hebat di Valencia,saya dengan sangat yakin Rojo pasti dijual Jose,niat Messi pensiun mungkin didasarkan ia tidak mau bermain dengan org ‘bodoh’

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s