Mencintai Sepakbola

Erich Fromm dalam bukunya yang termahsyur, The Art of Loving, telah menjelaskan kepada kita bagaimana cara memaknai hakikat cinta.

Mas Erich juga menjabarkan secara rinci bahwa cinta dibagi dalam beberapa objek. Misal, cinta ibu, cinta diri sendiri, cinta sesama, dan cinta kepada Allah.

Tulisan ini saya buat bukanlah untuk me-review buku beliau yang telah beredar di masyarakat sejak tahun 1956. Tapi, saya mencoba untuk mengaitkan beberapa pengetahuan beliau, tentang “seni mencintai”, dengan sepakbola.

Ada dua hal penting yang perlu diperhatikan dalam mempelajari seni; penguasaan teori dan mempraktikannya.

Cinta adalah memberi. Begitulah gambaran dasar mas Erich dalam mengartikan cinta. Dan, masih menurut beliau, cinta memiliki empat unsur penting di dalam pengaplikasiannya.

Keempat unsur itu adalah; perhatian, tanggung jawab, rasa hormat, dan pengetahuan. 

Cinta adalah perhatian aktif pada pertumbuhaan dari apa yang kau cintai. 

Contohnya sangat mudah, lihat ibu anda. Ia memberi makan, menanyakan kabar, memberi kenyamanan fisik dan psikis.

Cinta adalah tanggung jawab. Suatu tindakan yang bersifat sukarela akan orang lain.

Contohnya adalah ketika anda punya saudara. Jika anda merasa bisa mencintai, anda tidak akan pernah berpikir “Apa aku harus mengurusinya?”. Anda akan bertanggung jawab terhadap sesama seperti anda bertanggung jawab terhadap diri sendiri.

Cinta adalah rasa hormat yaitu ketika anda melihat seseorang sebagaimana adanya, melihatnya sebagai individu yang unik.

Dan yang terakhir. Cinta adalah pengetahuan, yaitu ketika anda mengenal sifat-sifat orang lain. Anda tau perasaannya hanya dengan melihat raut wajahnya.

**

Sama seperti manusia, sepakbola juga begitu dicintai. Sangat-sangat dicintai.

Bahkan ketika hari valentine, (yang sewajarnya dihabiskan dengan kekasih) banyak para fans sepakbola yang malah menikmati harinya dengan menonton pertandingan klub kesayangannya.

Dari teori mas Erich di atas tentang “seni mencintai” ternyata sepakbola bisa “disama-ratakan” dengan manusia pada umumnya.

Perhatian. Para fans dengan senang hati melihat kabar klub kesayangannya, mengecek kapan pertandingan selanjutnya, dan aktif melihat akun media sosial ofisial klub.

Tanggung jawab. Dengan label “fans” mereka seakan memiliki tanggung jawab untuk selalu hadir dalam pertandingan klub kesayangannya.

Entah itu langsung di stadion, live dari televisi, dan melihat live-score dari media sosial.

Rasa hormat. Menilik dari teori mas Erich tentang rasa hormat, para fans akan dengan senang hati melihat klub sebagaimana adanya.

Melihat klub sebagai individu/kelompok yang unik. Walau, dalam banyak kasus, banyak klub yang jarang -bahkan tidak pernah- meraih gelar juara. Sabodo teing sama gituan, kata mereka.

Pengetahuan. Mereka bermodal gadget dan kuota/wifi akan mencari tahu seluk-beluk klub. Apapun itu topiknya. Mereka ingin, sebagai fans, mengenal sifat-sifat serta sejarah klub kesayangannya.

Pertanyannya. Apakah yang mereka lakukan benar? Apakah dengan begitu mereka benar-benar “mencintai sepakbola”?

Menurut sebagian orang, mungkin, begitulah caranya mencintai sepakbola. Namun, bagi saya, sepakbola bukanlah hal yang sebegitu intim untuk dicintai.

Masih ada banyak hal yang lebih pantas dicintai ketimbang sepakbola. Keluarga, misalnya. Atau (kalau anda punya) kekasih, misalnya.

Sepakbola bukanlah alasan anda bangun pagi dini hari. Bukan pula alasan anda membeli kaus yang nominalnya bisa anda gunakan untuk hidup selama tiga minggu di kota Malang.

Sepakbola juga bukanlah alasan anda datang ke stadion untuk berteriak sampai tenggorokan anda lepas.

Bukan begitu cara anda mencintai sepakbola.

Karena menurut saya, mencintai sepakbola adalah ketika anda menyikapinya dengan wajar dan selalu menyimpannya di dalam hati.

Begitulah cara anda mencintai sepakbola. Sesederhana itu? Ya, cinta memang sederhana. Kita -manusia- yang membuatnya jadi rumit.

**

Seperti judul blog ini, sepakbola memang bukan hanya sekedar mencetak gol dan bermain sampai 90 menit. Sepakbola lebih dari itu, bung!

Tapi, kawanku, hidup bukan semua tentang sepakbola.

30 September 2016

Gambar: instagram @fifaworldcup

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s