The Old Man and the Young


Pagi itu, 16 Agustus 1945, Rengasdengklok ditumpahi hujan. Tidak terlalu lebat, juga tidak terlalu rintik. Angin dan hujan pagi dini hari itu menghiasi suasana di kediaman seorang petani kecil keturunan Tionghoa, Djiaw Kie Siong. Di rumah itulah para pemuda-pemuda bangsa Indonesia kala itu berdiskusi bersama kedua ‘Bapak Bangsa’, Soekarno-Hatta.

Yang didiskusikan oleh Adam Malik, Chaerul Saleh, Sukarni, dkk bersama Bung Karno dan Bung Hatta, tentu saja, adalah sebuah pernyataan sederhana. Indonesia harus segera merdeka. Itu saja.

Peristiwa yang dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok itu terjadi karena perbedaan pendapat antara golongan muda dengan golongan tua. Yang muda inginnya cepet-cepet, yang tua inginnya sabar dan menunggu keputusan PPKI.

Golongan tua, Achmad Subardjo dkk, menginginkan kemerdekaan Indonesia harus melalui PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Yang mana menurut golongan muda, Adam Malik dkk, jika Indonesia merdeka melalui PPKI sama saja dengan Indonesia merdeka karena oleh-oleh dari Jepang, bukan karena usaha bangsa Indonesia itu sendiri.

Bung Karno, serta Hatta dan tokoh-tokoh golongan tua lain, juga menginginkan kemerdekaan melalui PPKI. Hingga akhirnya kedua Bapak Bangsa ini harus ‘diculik’ oleh golongan muda ke Rengasdengklok, karena daerah itu dilihat aman dari pengaruh bangsa Jepang.

Dan seperti yang tertulis dalam sejarah, dan melalui diskusi yang panjang, Bung Karno setuju untuk membacakan teks proklamasi selambat-lambatnya pada 17 Agustus 1945 pukul 12:00.

**

Enam hari yang lalu pada pertandingan yang mempertemukan dua tim pengoleksi gelar terbanyak Serie A, Juventus dan AC Milan, dua pemuda asal Milan berhasil ‘memberikan’ kemenangan pada I Rossoneri.

Bukan kemenangan biasa. Memang, kemenangan 1-0 AC Milan ini tetap bernilai 3 poin seperti pertandingan lain. Tapi kemenangan ini terasa begitu tak biasa, karena ini adalah kemenangan AC Milan atas Juventus dalam empat tahun terakhir. Ya, anda tidak salah baca, empat tahun.

Dua pemuda yang disebut adalah sang penjaga gawang Gianlugi Donnarumma dan sang pencetak gol kemenangan Manuel Locatelli.

Tanpa menyisihkan pemain lainnya, kontribusi kedua pemuda ini terlihat sangat dominan. Walau, dilihat dari segi umur, mereka berdua adalah yang termuda dari 11 pemain starting line-up AC Milan. Bayangkan saja, jumlah umur kedua pemain ini masih kalah ketimbang umur Buffon.

Umur Buffon yang masih 38 tahun, 3 tahun lebih banyak ketimbang umur Locatelli (18 tahun) dan Donnarumma (17 tahun) jika digabungkan. Bahkan saya ‘pun masih lebih tua dari Donnarumma.

Namun, apakah dengan umurnya yang masih seumur jagung, membuat mereka berdua tidak bisa berkontribusi untuk klubnya? Apakah dengan adanya pemain-pemain yang lebih senior membuat sinar mereka berdua hilang begitu saja? Jawabannya tentu saja tidak.

Gol kemenangan Locatelli dan saves Donnarumma di menit terakhir pertandingan, membuktian bahwa umur bukanlah tolak ukur kontribusi pemain dalam sebuah pertandingan. Membuktikan bahwa umur yang 17, 18, 29, 38 hanyalah angka dan sebuah kefanaan, sedangkan apa yang terjadi di lapangan adalah keabadian.

Pengalaman pemain senior memang tidak bisa dikesampingkan begitu saja. Puluhan bahkan ratusan pertandingan yang telah mereka jalani bukanlah sebuah angka-angka statistik belaka. Experience has its place in the match.

Tapi untuk menang anda perlu lebih dari sekedar pengalaman. Karena jika hanya dengan pengalaman anda bisa menang, mungkin timnas Italia yang akan jadi juara Euro 2016.

Selain pengalaman, anda harus rekatif, tangkas, penuh semangat berapi-api, dan tentu saja pintar mengambil kesempatan. Hal-hal itu sangat merepresentasikan keunggulan dari para pemuda-pemuda. Para pemuda yang minim pengalaman diberi keunggulan oleh tuhan dengan hal-hal semacam itu.

Namun ibarat mata uang yang punya dua sisi, bukan berarti pemain muda tidak ada cacatnya. Selain minimnya pengalaman, pemain muda juga cenderung emosian, maunya sendiri, dan kurang akan rasa tanggung jawab.

Lihat bagaimana debut Paulo Dybala di timnas Argentina kemarin, kartu merah. Lihat bagaimana David Beckham di piala dunia 1998, kartu merah. Dan bagaimana kurangnya rasa tanggung jawab akan tim pada diri Gerard Deulofeu ketika masih di Barcelona B dan awal-awal di Everton.

Maka dari itu diperlukan pemain senior yang lebih sabar, penuh tanggung jawab, di sebuah tim untuk meredam hal-hal seperti itu terjadi.

Karena itulah Franscesco Totti, Andres Iniesta, Wayne Rooney, Sergio Ramos, Gianluigi Buffon masih dibutuhkan oleh tim-tim mereka.

Karena itulah selain kita butuh Adam Malik, Wikana, dan Chaerul Soleh, kita juga butuh Bung Karno, Bung Hatta, serta Achmad Soebardjo. 

Karena jika kita hanya mempunyai salah satu antar golongan muda atau golongan tua, mungkin, sampai saat ini kita belum merdeka.

*** 

Dari peristiwa ini kita setidaknya dapat belajar dua hal dari sifat para golongan muda dan tua; yang muda reaktif, penuh semangat, tangkas, dan pintar mengambil kesempatan. Sedangkan yang tua sabar, idealis, dan penuh tanggung jawab.

Keduanya memang tidak sempurna, dan pasti mempunyai kecacatan. Tetapi, seperti kata Johan Cruyff, “Every disadvantage has its advantage.” Right?

Nb: Selamat hari sumpah pemuda 28 Oktober untuk semua pemuda, yang pernah jadi pemuda, dan yang kelak akan menjadi pemuda bangsa Indonesia.

29 Oktober 2016

Gambar: ligaolahraga.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s