Karena Shaf Terdepan adalah Milik Kita Semua

Seminggu yang lalu, saya dan dua teman saya makan siang menjelang sore di warung kopi. Warung tersebut menjual roti dan pisang bakar, indomie rebus dan goreng, minuman-minuman dingin dan hangat. Dan kopi, tentunya. Indomie telor kornet rasa soto ayam dan segelas es teh manis menemani saya dalam berbincang bersama kedua teman saya.

Hampir dua jam kami di sana. Dan percayalah, menikmati senja dengan semangkuk indomie dan telinga yang sedia mendengar segala ocehanmu adalah salah satu nikmat tuhan yang tidak dapat didustakan.

Waktu menunjukan 15 menit sebelum adzan maghrib. Kami bertiga menuju masjid untuk menunaikan solat maghrib. Masjidnya besar dan ramai, walau tidak sebesar dan seramai Masjid al-Ḥarām. Saya dan kedua teman saya mengambil posisi duduk (sambil menunggu adzan maghrib tiba) di shaf terdepan. Maksud saya, benar-benar paling depan. Persis di belakang posisi imam.

Adzan maghrib pun tiba. Hampir semua orang yang ada di dalam masjid itu melaksanakan solat sunah qobliah magrib. Ketika iqamah dikumandangkan dan imam masjid telah berdiri di singgasananya, di sinilah hal –yang menurut saya— menarik terjadi.

Awalnya, seperti biasa, imam memberikan arahan kepada makmumnya untuk merapatkan dan meluruskan shaf. Ketika saya dan kedua teman saya (posisi kami persis di belakang imam dan saling bersebelahan) ingin merapatkan shaf, tiba-tiba imam menyuruh kami –hanya kami bertiga— untuk agak melonggarkan shaf. Nah lo? Tadi disuruh rapat, sekarang malah disuruh longgar? Jadi yang benar yang mana? Jangan plin-plan dong, saya tuh gak bisa diginiin! (Lha kok saya jadi marah-marah?!).

Kami bertiga kebingungan. Benar-benar bingung. Lebih bingung dari mahasiswa yang mengerjakan quiz mendadak pagi-pagi, telat, dan tidak belajar malam harinya. Beberapa makmum disebelah kami mencoba membantu arahan sang imam. Kami geser ke kanan, masih salah. Kami geser ke kiri, juga salah. Mungkin ini salah satu perwujudan yang hakiki dari yang namanya ‘Serba Salah’.

Akhirnya saya melonggarkan shaf ke arah kanan. Dan seketika itu juga, salah satu makmum lain mengisi tempat kosong yang saya tinggalkan. Sepertinya dia adalah salah satu tetua di masjid ini. Orang di sebelah saya tiba-tiba berbisik, “Nanti kalau imamnya lupa, kamu dan/atau temanmu gak bisa ingetin.”

Deg. Saya terkejut. Apa anda pernah pergi ke kampus dengan terburu-buru, gak mandi, gak sarapan, gak ngecek hp, dan ketika sampai di kelas, anda terkejut ternyata kelasnya kosong? Dan keterkejutan anda makin menambah ketika melihat kabar di hp anda bahwa dosen gak masuk? Saya 15 kali lebih terkejut dari itu. Oke, ini lebay. Namun saya juga sadar diri dan menerima dengan lapang dada. Imam di masjid-masjid besar seperti ini bisa membacakan surat dari juz 1-30 dengan fasihnya. Lha saya mah apa atuh? Juz 30 aja masih belum khatam.

Kami pun melaksanakan solat magrib. Untungnya skenario “Imam lupa” tidak terjadi. Sang imam membacakan surat dengan lancar nan indah. Kami bertiga pun keluar masjid dan sempat membicarakan ‘kejadian menarik’ tadi.

“Mungkin di sana udah diatur, siapa imamnya, siapa makmum yang di belakang imam, siapa yang doa dan dzikir abis solat, siapa yang ingetin imam kalo lupa, dan sebagainya”

Namun, ya sudah. Sekedar bincang biasa dan kami –saya tepatnya— memutuskan untuk tidak memikirkan dalam-dalam kejadian tadi.

Keesokan harinya, ketika saya sudah benar-benar melupakan kejadian kemarin, saya ingin menunaikan ibadah solat zuhur di masjid dekat rumah saya. Masjid ini jauh lebih kecil dan jauh lebih sepi ketimbang masjid tempat kemarin saya solat magrib. Di perjalanan menuju masjid, saya sempat iseng berpikir bahwa kejadian kemarin tidak akan terjadi di masjid dekat rumah saya.

“Lha wong masjidnya aja sepi, kalo dikumpulin terus disuruh solat di masjid kemarin, paling-paling cuma keisi dua shaf”

Namun, hanya di solat zuhur di hari senin-kamis, masjid ini jadi bisa ramai (selain solat jumat dan kadang-kadang solat magrib). Karena kebetulan gak jauh dari masjid ini, berdiri sekolah dasar islam. Dan ketika adzan zuhur para murid ‘pun menunaikan solat di masjid ini.

Saya masuk ke dalam masjid. Iqamah pun dikumandangkan. Saya maju ke shaf paling depan. Kebetulan shaf paling depan belum penuh seluruhnya. Dan seorang anak sd dekat masjid ini maju dan berdiri di sebelah saya. Ketika saya ingin merapatkan shaf, tiba-tiba saja seorang bapak-bapak menyuruh anak di sebelah saya untuk mundur.

“Heh, anak kecil solatnya di belakang!”

Deg. Saya terkejut (lagi). Ini mengingatkan saya pada kejadian kemarin, yang bahkan lewat sehari aja belum. Saya bingung. Benar-benar bingung. Maksud saya, jika ada penghargaan orang paling bingung di dunia, pada hari itu saya-lah juaranya. Gimana mau gak bingung, sejak kapan shaf paling depan cuma milik orang tua berpakaian agamis? Sejak kapan anak-anak kecil –yang memang sudah kodratnya untuk selalu bercanda dan bersenang-senang— tidak boleh solat di shaf paling depan?

Dan, sejak kapan ada makmum khusus yang ditugaskan untuk mengekor di belakang imam sekedar untuk mengingatkan kalau imamnya lupa? Lha ya jangan sampai lupa dong, bapak. Gimana kalau saya kasih ide untuk menyiapakan makmum disebelah makmum khusus tersebut, untuk jaga-jaga jika makmum khusus tersebut ternyata lupa juga?

Saya yakin Gus Dur bakal ngakak kalau tau cerita ini.

Setahu saya (koreksi jika saya salah) tidak ada dalil yang menyebutkan, “Bahwa sesungguhnya shaf-shaf terdepan hanyalah milik mereka para orang tua, mereka yang sudah hafal 30 juz Al-Qur’an, dan milik para ustad”. Bahkan, imam-imam di masjid manapun selalu mewajibkan untuk mengisi shaf-shaf terdepan. Siapapun itu. Tidak ada tulisan di masjid bahwa hanya orang-orang tertentu yang boleh solat di shat terdepan.

Karena sejatinya shaf-shaf terdepan hanyalah milik mereka yang mau mengusahakannya. Yang mau berusaha datang awal waktu untuk bisa berada di sana. Anak kecil, remaja, orang tua. Siapapun yang mengusahakannya, dialah yang berhak mendapatkannya.

Bukankah kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan? Dan seperti halnya perlombaan pada umumnya, ketika anda kalah anda tidak bisa memaksa untuk menang. Anda hanya bisa mengoreksi diri, supaya kedepannya anda tidak kalah lagi.

Takut karena anak kecil akan mengganggu kekhusyuan solat? Walah, mungkin bukan anak kecilnya yang harus diusir, tapi iman kitalah yang  haru diupgrade.

Kita mungkin sering dengar omongan yang menyebutkan bahwa kenapa hanya orang tua yang solat di masjid? Ini stigma yang sudah sering beredar di masyarakat. Lantas ketika anak kecil dan remaja ingin meramaikan masjid, kenapa lantas para orang tua –menurut saya– malah membikin kesan yang negatif di pikiran mereka?

Orang tua seharusnya membimbing, mengayomi, dan terutama mengajari mereka. Tentunya dengan ramah dan santun. Supaya di pikiran mereka masjid adalah tempat yang menyenangkan laiknya tempat bermain. Supaya masjid menjadi tempat yang membuat hati mereka tenang dan diri mereka nyaman. Kalau orang tua malah marah-marah gak jelas, jangan harap masjid dipenuhi anak-anak dan remaja lagi.

Terakhir, kenapa kebanyakan shaf terdepan di masjid-masjid diisi oleh para orang tua? Jawabannya adalah rasa hormat. Sekali lagi, rasa hormat bukan paksaan apalagi ketakutan.

***

Kita harusnya bersyukur, karena rahmat dari Allah yang membikin kita masuk surga-Nya. Bukan karena solat kita, bukan karena puasa kita, bukan karena zakat kita, dan juga bukan karena seberapa sering kita solat di shaf terdepan.

Karena jika syarat masuk surga adalah seberapa sering kita solat di shaf terdepan, mungkin masjid akan dibuat memanjang secara horizontal dan hanya terdiri dari satu shaf, hehehe.

31 Januari 2017

Gambar:https://muhsinbudiono.files.wordpress.com/2015/04/anak-jadi-imam.jpg

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s