Terima Kasih, Boss!

Kemarin malam setelah saya menyelesaikan bahan presentasi untuk mata kuliah Teknologi Bahan, saya menyalakan televisi. Saya mencari apakah ada stasiun televisi yang menyiarkan program untuk menarik ditonton pada hari kamis jam setengah dua pagi dini hari.

Dan pertandingan Barcelona melawan Sporting Gijon yang disiarkan stasiun televisi satu-untuk-semua membuat pencarian saya terhenti.

Jujur, setelah dikecewakan di Paris, entah kenapa saya jadi ogah untuk menonton pertandingan Barcelona. Walau, kenyataannya, seluruh pertandingan Barcelona setelahnya saya tonton semua. Dari susah payah menang lawan Leganes, sedikit meyakinkan karena menang di Vicente Calderon, sampai berhasil menang dengan setengah lusin gol tadi pagi.

Barcelona bagaikan pacar yang selingkuh, tapi kita gak bisa benci sedikit pun padanya. Walau perbuatannya, yah, kalian semua tau lah. Memang benar kata orang banyak, slogan mes que un club bukan hanya sekedar slogan. 

Saya menonton pertandingan itu, seperti biasa, dengan harapan yang sama. Menang. Dan Leo Messi mencetak hattrick. Kenapa Messi? Lho, terserah saya dong, kan saya yang nulis. Yah walaupun Messi gak jadi hattrick, setidaknya dia mencetak gol. Dan Barcelona menang. 6-1.

Gimana saya gak mau gembira? Ini bagaikan jawaban atas keraguan Barcelona belakangan ini. Juga semakin meyakinkan ketika akan menghadapi juara Perancis di leg kedua. Walau, saya sendiri sedikit ragu Barcelona bisa lolos. Saya yakin Barcelona menang, tapi kalau lolos? Yah kita lihat saja nanti.

Namun kegembiraan itu bagaikan fatamorgana di padang pasir. Sesaat setelah kemenangan itu, sang Boss memberikan pernyataan yang mengejutkan. Dia tidak akan menjadi pelatih Barcelona musim depan. Walah, sekarang gimana saya gak mau sedih?

Sudah dikecewakan, diberi harapan yang tinggi, lalu dikecewakan lagi. Dosa apa fans Barcelona, Tuhan? Rasa-rasanya saya jadi ingin membuat #AksiBela yang terkenal itu.

Namun, Mas Enrique sudah membuat pilihan. Yang mana tugas kita, tidak lain tidak bukan, adalah menghargai dan menghormati keputusannya. Memang berat, sih. Seperti yang sudah dijelaskan tadi, sudah diselingkuhi, tetap disayang, eh malah diputusin. Mbok dipikir dulu, ini kan hati bukan baja. Secara akal sehat, menghargai dan menghormati keputusan itu bagaikan percaya bumi itu datar. Tidak mungkin.

Saya tau, dan saya yakin Anda juga tau. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Itu sudah harga mutlak. Saya dan Anda tau, Enrique tidak akan selamanya berada di Barcelona. Namun, yang saya tidak habis pikir, Enrique mengumumkan kepergiannya di saat yang tidak tepat.

Maksud saya, kenapa Enrique tidak mengumumkan kepergiannya setelah mengangkat trofi UCL di akhir musim? Bukankah, itu adalah skenario kepergian terbaik yang bisa terjadi?

Dan untuk, yang katanya, fans Barcelona tetapi sangat kekeh meneriakan #EnriqueOut, bagaimana perasaan kalian? Semoga saja kalian senang. Dan semoga saja pelatih kesayangan kalian di luar sana bisa datang ke Barcelona musim depan. Aamiin.

Namun, untuk kalian, bergabunglah dengan saya. Untuk terus percaya pada Enrique di sisa-sisa waktunya di Barcelona. Kurang lebih 3-4 bulan lagi. Masak, sih, kalian tidak bisa percaya pada Enrique dalam waktu yang singkat itu?

Lalu, 2 tahun kemarin kalian ke mana aja? Kalian percaya kan kepadanya ketika dia memberikan 5 trofi di tahun 2015? Atau, ketika meraih double winners di tahun 2016?

Begini maksud saya. Waktu Enrique membuat Barcelona berjaya, kita gembira luar biasa, pesta sejadi-jadinya. Lha masak ketika Barcelona dibantai 4-0 oleh PSG, kalian seenaknya buka HP dan update di twitter: “Kalah lagi!!! Enrique ini penyebabnya, miskin taktik, cuma ngandalin MSN, gak bisa ngeredam ego pemain. Pokoknya #EnriqueOut!!!”

Walaah, enak sekali hidup kalian. Saya jadi pingin.

Jadi, berhentilah menghujat Enrique. Pelatih yang telah memberikan 8 trofi di dua tahun terakhir, tidak akan lagi berdiri di pinggir lapangan Camp Nou musim depan.

Lebih baik sekarang kita lakukan tugas utama kita sebagai fans. Ayo tetap dukung Enrique. Memangnya, tugas utama kita sebagai fans apalagi, selain mendukung?

Tentu Enrique pernah bertindak salah. Dan tugas lain kita lah untuk mengkritiknya, tentu dengan kritik yang membangun, bukan menghujat. Di lain sisi kita tetap mendukungnya.

Karena Enrique kan, juga manusia. Sama kayak saya dan Anda. Dia bisa capek, bisa masuk angin, bisa ngantuk, dan tentunya bisa salah. Maka dari itu, di sisa-sisa waktu Enrique di Barcelona, marilah kita tetap mendukung dan mengkritik jika tindakannya salah. Apapun hasilnya nanti di akhir musim.

***

Di akhir musim nanti, jangan lupa untuk berterima kasih kepada Enrique. Atas segala usahanya, pengorbanannya, dan seluruh cinta yang ia berikan kepada Barcelona.

Saya jadi teringat kata-kata salah satu penjaga keamanan di Camp Nou, “Jangan kau tanyakan apa yang Barcelona berikan padamu, tapi tanyalah apa yang kau berikan pada Barcelona”.

Terima kasih, Boss!
2 Maret 2017

Gambar: instagram #luisenrique

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s