Tidak Cukupkah Sepakbola Hanya Sekedar Dinikmati?

c9kcv3wxuaug3i3

Sepakbola adalah salah satu anugerah Tuhan yang paling indah. Stadion megah, lapangan rumput nan hijau, sepasang gawang, sebuah bola, dua kesebelasan, dan tentunya yang tak kalah penting, suporter. Walau ada beberapa orang yang tidak mengerti apa indahnya sepakbola dengan segala tetek bengeknya itu.

Bagi saya menjadi suporter sepakbola, kalau tidak berlebihan, adalah sebuah mukjizat. Ada perasaan senang dan gembira, namun juga perasaan sedih dan kecewa. Semua emosi berkumpul jadi satu dalam menjadi suporter sepakbola. Sekali lagi, menjadi pengagum salah satu anugerah Tuhan yang indah itu, bagi saya, adalah sebuah mukjizat.

Dan apa yang terjadi di Jerman, tepatnya di Dortmund, selasa kemarin adalah sebuah bukti bahwa sepakbola benar-benar anugerah dari Tuhan dan menjadi suporter sepakbola adalah sebuah mukjizat.

Awal mulanya adalah ketika pertandingan Borussia Dortmund melawan AS Monaco terpaksa ditunda karena bus kesebelasan Borussia Dortmund harus menjadi korban perbuatan keji para teroris. Sekurang-kurangnya tiga bom meledak di sekitaran bus.

Tidak ada korban jiwa pada insiden itu kecuali Marc Bartra, yang pergelangan tangan kanannya harus dioperasi karena terkena pecahan kaca bus.

Beragam ucapan bela sungkawa dan ucapan semangat tertuju kepada klub yang bermarkas di Signal Iduna Park tersebut. Sepakbola, dalam hal ini Borussia Dortmund, mengutuk keras aksi terorisme ini dan menyatakan tidak takut dengan terorisme. When terrorism tries to divide, football unites.

Yang menarik dan luar biasa adalah sikap fans Dortmund dalam menyikapi insiden itu. Selain mengutuk keras dan menyatakan tidak takut dengan aksi terorisme, para fans Dortmund menolong para fans AS Monaco yang tidak memiliki tempat untuk menginap.

Seperti yang sudah dibilang, insiden bom tersebut membuat pertandingan harus ditunda. Dan salah satu pihak yang dirugikan karena insiden tersebut adalah fans AS Monaco yang tidak memilki tempat menginap di Jerman. Aksi fans Dortmund yang luar biasa ini benar-benar merepresentasikan kalimat, “Dia yang bukan saudaramu dalam mendukung sebuah kesebelasan, adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. Aksi ini pun diberi nama #bedforawayfans.

Sepakbola, seperti semua hal yang ada di dunia ini, tentunya tidaklah sempurna. Ada kelebihan kenapa permainan ini begitu digandrungi. Dan tentunya ada kekurangan kenapa permainan ini tidak sedikit yang menjauhi.

Dan kejadian di Lyon, Prancis, dua hari setelah insiden bom di Jerman adalah bukti sahih kenapa sepakbola ternyata bukanlah hal yang begitu indah dan pantas dikagumi.

Pertandingan perempat final Liga Eropa antara Olympique Lyon dan Besiktas sempat ditunda hampir 45 menit. Penyebabnya sangat klasik sebenarnya. Apalagi kalau bukan suporter yang rusuh. Suporter kedua tim saling bentrok di lapangan. Yah, mungkin kita udah bisa ya liat itu di Indonesia?

Insiden ini terjadi disinyalir diawali oleh keributan para suporter Besiktas yang datang langsung ke Lyon. Ulah mereka bukan hanya ribut dengan sesama suporter, namun ada beberapa dari mereka juga memancing keributan dengan polisi dan merusak store klub Lyon karena gagal mendapatkan tiket yang sudah terjual habis.

Dan tragedi pun terjadi.

Sampai saat ini saya belum tahu berapa korban akibat insiden ini, dari yang saya baca beberapa orang mengalami luka-luka.

Namun itu semua bukan masalah utamanya. Yang jadi masalah adalah kenapa hal-hal seperti ini berulang kali terjadi tanpa pernah selesai. Oke, anda mendukung Persib Bandung. Apa menjadi kewajiban dan keharusan anda untuk membenci Persija Jakarta? Membuat keributan dengan the jakmania?

Anda mendukung Arema Malang, lalu pergi ke Surabaya untuk menonton pertandingan Arema melawan Persebaya Surabaya. Dan anda kehabisan tiket, apakah membuat kerusuhan dan melukai para Bonek adalah tindakan yang rasional?

Jawaban dari semua pertanyaan di atas tentu saja tidak. Sama seperti kasus suporter Lyon dan Besiktas. Kekerasan, kebencian, apalagi saling bunuh bukanlah hal yang seharusnya ada di sepakbola. Maksud saya, belum cukupkah sepakbola dengan segala keindahannya? Apa kalian semua ingin merusak kemurnian the beautiful game dengan menambahkan kekerasan dan kebencian?

Tidak cukupkah kalian hanya sekedar menikmati sepakbola? Datang ke stadion, mendukung sepenuh hati, dan menyikapi dengan wajar apapun hasil pertandingannya?

Tidak bisakah para suporter yang datang ke stadion bisa dengan tenang menikmati kesebelasannya bermain? Bisa dengan tenang untuk pulang ke rumahnya?

Ayolah, Tuhan tidak menciptakan sepakbola untuk kalian saling benci-membenci, luka-melukai, apalagi bunuh-membunuh. Cukup pilkada yang bisa bikin saling benci cuma karena beda pilihan, sepakbola jangan.

***

Kalau boleh jujur, saya yakin sepenuhnya kedepan semua suporter sepakbola bisa lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi hal-hal yang sensitif seperti kasus di atas. Walau, tentu saja itu bukan hal yang mudah dan butuh proses serta waktu yang tidak sebentar.

Maka dari itu, seperti kata Rasulullah Saw., “Ibda’ binafsik –– mulailah dari dirimu sendiri”.

 

14 April 2017

Gambar: twitter @JuanDirection58

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s